Tampilkan postingan dengan label barokah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label barokah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Juli 2016

REZEKI YANG BAROKAH

...CARA ALLAH MEMBERI REZEKI YANG BAROKAH...

... SEBUAH KISAH NYATA,

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Andaikata, uang kita diambil satu bagian, lalu dikembalikan sebanyak tujuh belas kali lipat, maukah kita? Andaikata, yang mengambil tidak memberitahu lebih dahulu, kalau nantinya akan dibayar dengan berlipat ganda, maukah kita?

Marilah kita ikuti pengalaman nyata seorang bapak muda yang cukup menarik untuk dikaji. Sebutlah Pak A. Sekitar bbrp tahun yang lalu, tepatnya tahun 1988, seorang muda yang baru dikarunia seorang anak, bekerja sambil menyelesaikan kuliahnya yang tinggal sebentar lagi selesai.

Gaji yang didapatkan dari pekerjaannya itu setiap bulannya dapat dikatakan sangat tidak cukup untuk biaya hidupnya beserta istri dan seorang anak kecilnya.

Suatu hari yang "naas" ia pulang dari kerjanya. Dengan penuh gembira ia membawa pulang gaji pertamanya yang sebesar Rp. 40.000,- ( Empat puluh ribu rupiah ). Dengan perasaan bangga dan penuh dengan rasa gembira ingin ditunjukkannya hasil kerjanya itu kepada istri tercintanya.

Ingin sekali ia cepat-cepat sampai di rumah dan dengan uang itu ia ingin belanja bersama istri dan anaknya, maklum gaji pertama adalah gaji yang mempunyai nilai "historis" tinggi.

Setelah sampai dirumah apa yang terjadi? Ternyata dompet yang berisi gaji satu bulan tersebut sudah tidak ada di saku celananya alias kecopetan ketika ia pulang dari tempat kerjanya.

Bisa dibayangkan betapa sedih, kecewa dan bingungnya ia ketika itu. Andaikata bisa, mungkin ia akan menangis sejadi-jadinya. Bahkan mungkin ia akan protes kepada Tuhan yang telah "mengijinkan" peristiwa itu terjadi. Karena ia telah bekerja dengan keringatnya tanpa kenal lelah dengan penghasilan yang halal demi keluarga tercinta.

Waktu satu bulan sungguh terasa sangat lama untuk menunggu gaji tersebut. Tapi apa mau dikata gaji pertamanya sudah harus ia relakan untuk tidak ia miliki saat itu. Bagaimana jika peristiwa itu terjadi pada diri kita? Sanggupkah kita menerimanya dengan ikhlas?

Apa yang ia lakukan selanjutnya? Ia duduk terdiam tanpa bisa berkata apa-apa sambil memandang istri dan anaknya, mengapa hal ini harus terjadi pada dirinya? Dalam kondisi seperti itu dengan hati terasa pedih ia mencoba tegar dan berpikir praktis. Biarlah uangnya hilang, toh peristiwa sudah terjadi, mau diapa lagi....?"

Akhirnya diambilnya keputusan untuk tetap berusaha kalau-kalau dompet tersebut masih mungkin untuk ditemukan, walaupun secara logika sangat kecil kemungkinannya untuk mendapatkan kembali uangnya tersebut. Ia berusaha mengambil hikmah dari kejadian itu meskipun dengan perasaan yang tidak karuan sedihnya.

Keputusan segera diambilnya, yaitu tetap berusaha untuk mencoba mendapatkan kembali dompetnya karena di dalamnya ada beberapa surat berharga, diantaranya stnk kendaraan bermotor, ktp, dan beberapa surat penting lainnya.

Akhirnya untuk mendapatkan kembali surat-surat yang hilang tersebut ia menulis surat pembaca pada sebuah surat kabar, yang intinya: biarlah uang itu hilang, asal surat-suratnya dapat kembali, dan ia berharap jika ada orang yang menemukan dompet itu, ia minta tolong agar di antarkan ke alamat yang tertera dalam ktp tersebut.

Apa yang dilakukan hari-hari berlkutnya? Setiap hari ia membaca surat kabar, kalau-kalau ada berita tentang dompetnya yang hilang. Ketemukah dompet tersebut? ternyata tidak!

Lalu dimanakah keindahannya peristiwa itu? Keindahannya ialah terletak pada keharusannya ia membaca surat kabar tersebut. Seolah-olah Allah menyuruh dia untuk membaca surat kabar setiap hari, dengan cara "mengijinkan" seseorang untuk mengambil dompetnya ...

Lalu apa yang terjadi hari berikutnya? Dengan membaca surat kabar setiap hari, tanpa terasa suatu saat ia menemukan suatu tulisan pada disiplin ilmu yang dikuasainya yang menurut pendapatnya hal itu kurang tepat, akhirnya ia mencoba menulis untuk mengulas dan menyanggahnya.

Waktu berjalan dengan cepat. Ia telah lupa pada dompetnya yang hilang, dan mulai saat itu ia asyik menulis sesuai dengan kemampuannya yang sesuai pula dengan disiplin ilmunya.

Hal ini berlangsung beberapa bulan sejak terjadinya peristiwa naas tersebut. Selanjutnya ia sering menulis dan menanggapi tulisan orang lain sampai berulang-ulang sehingga ia menjadi seorang penulis. Meskipun masih pemula, pada surat kabar tersebut. Lalu?

Karena kemampuannya menulis dinilai cukup baik, oleh pimpinan perusahaan ia dipanggil dan ditawari untuk bekerja diperusahaan tersebut dengan gaji pertama Rp 750.000,- Tujuh belas kali lipat lebih tinggi dibanding uangnya yang telah hilang waktu itu.

Itulah rupanya jawaban Allah atas kejadian yang menimpa seseorang, bila sabar menerimanya. Allah "meminjam" 1 bagian, dan kini dikembalikan menjadi tujuh belas kali lipat lebih.

Waktu berjalan terus tanpa terasa, dan pada saat saya menulis ini, ia telah mencapai sukses gemilang dengan penghasilan yang ribuan kali lipat dibanding uang yang hilang dulu.

Apakah ini merupakan puncak keindahan dari peristiwa yang terjadi di hari "naas" itu, atau bahkan Allah Yang Maha kuasa akan menunjukkan pada sesuatu yang lebih indah lagi....wallahu 'alam.

Yang pasti, ukuran sukses yang paling besar adalah hati yang damai, dan bahagia yang tercapai. Saya yakin setiap orang pernah mengalami kejadian yang senada dengan kejadian diatas. Hanya saja mungkin skala dan situasinya yang berbeda.

Marilah kita renungkan perjalanan hidup kita masing-masing, pasti kita pernah mengalami suatu kejadian, dimana kejadian tersebut kita sangka sesuatu yang menyusahkan, merugikan, dan menyedihkan.

Tetapi hal itu akan berubah menjadi sesuatu yang indah, apabila seseorang sabar menerimanya. Akhirnya muncullah hikmah yang sangat besar yang tiada tersangka sebelumnya.

Sungguh, Allah Maha Perencana dari segala macam kejadian dan peristiwa. Setiap peristiwa yang sudah terjadi, bagi seorang muslim merupakan ketetapan Allah yang sangat indah. Karena disitulah letak ukuran dan ujian kualitas taqwa seseorang ...

Wallahua’lam bish Shawwab ....

... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ...
Silahkan DICOPAS atau DI SHARE jika menurut sahabat note ini bermanfaat ....

#BERSIHKAN HATI MENUJU RIDHA ILAHI#
------------------------------------------------
.... Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma Wabihamdika Asyhadu Allailaaha Illa Anta Astaghfiruka Wa'atuubu Ilaik ...

Minggu, 03 Juli 2016

REZEKI YANG BAROKAH

CIRI REZEKI YANG BAROKAH
  • Seperti apa rezeki yang barokah itu..?
  • Umur yang barokah..?
  • Serta keluarga yang barokah..?
Terkadang kita sebagai manusia sering lupa untuk bersyukur pada Allah karena saking banyaknya nikmat yang diberikan, sampai seolah terasa tidak ada nikmat yang diberikan olehNya.
Betapa kufurnya kita.. padahal jika kita sadar,satu saja nikmat dicabut Allah..kita sudah kelabakan, bingung bagaimana mencari solusinya.
Coba saja jika tiba-tiba Allah menutup saluran pembuangan kita, berhari-hari kita tidak bisa buang air besar maupun kecil. Kira-kira berapa ratus juta akan kita keluarkan untuk menormalkan kembali saluran pembuangan kita..?
Jika sudah demikian rezeki banyak yang senantiasa diminta kepada Allah akan berkurang banyak pula untuk kesembuhan kita. Yang demikian ini rezeki yang kita terima tidak barokah,entah cara mencarinya yang salah… atau mendapatkannya dengan mendzalimi orang lain.

Beda dengan orang yang diberikan rezeki sedikit tapi barokah..
Ia akan dicukupkan hidupnya oleh Allah, keinginannya senantiasa terkendali terhadap hal-hal yang menjadi kebutuhannya, apa yang dimakannya memberikan kesehatan dan ketentraman dalam hidupnya, keluarga menjadi penyejuk hati, ayah,ibu dan anak saling mengerti akan keadaan, diberi kecerdasan dan kesabaran dalam menjalani hidup dan yang terpenting diberi kenikmatan untuk menjalankan ibadah,menjaga keimanan untuk taat pada Allah.

Bagaimana caranya mendapatkan rezeki yang barokah..? menjadikan umur kita barokah..? sehingga pada akhirnya keluarga kita merasakan barokah dari Allah.

Islam telah menuntun kita agar senantiasa mencari rezeki yang halal (baik caranya maupun wujudnya) dan menjauhkan diri kita dari rezeki yang haram, tinggal kita sendiri bisa tidak menjalaninya.

Ketika apa yang kita inginkan tercapai,misal mendapatkan uang dengan cara yang halal, lantas digunakan untuk apa uang ini..?
  • apakah sekedar kita belanjakan hingga habis untuk segala keperluan kita..?
  • apakah terlebih dulu kita menyisihkan sebagian untuk dizakatkan..?
  • atau mungkin kita gunakan untuk banyak bersedekah..?
  • atau bahkan kita gunakan untuk hal-hal yang salah, yang tidak mendapatkan ridho Allah..?
  • Semua hal di atas menentukan rezeki yang kita terima dari Allah menjadi berkah atau tidak dalam kehidupan kita.
  • Demikian pula dengan umur yang kita miliki.. kita manfaatkan untuk apa umur kita..?
  • apakah digunakan untuk beribadah kepada Allah dan bekerja sebagai sarana mencukupi kebutuhan hidup..?
  • atau mungkin digunakan untuk berbagi ilmu terhadap sesama..?
  • atau bahkan hanya digunakan untuk berfoya-foya menghabiskan harta yang dimilik..?
Ketika umur yang kita miliki dimanfaatkan untuk hal-hal yang bisa mendapatkan ridho Allah,insyaAllah umur kita menjadi berkah..tetapi jika tidak.. mungkin banyak permasalahan yang melanda hidup kita, yang membuat seseorang apatis menjalani hidup.

Saudaraku, hidup di dunia ini memang menyenangkan.. namun janganlah lupa ada kehidupan lagi di Yaumil Akhir yang harus kita perjuangkan sejak kita di dunia. Bukan justru kita abaikan…
Apa yang kita dapatkan saat ini hendaknya menjadi sarana agar kita memiliki bekal untuk hari esok karena kelak di Yaumil Akhir kita akan melaluinya lebih lama daripada di dunia.

Marilah mulai sekarang kita belajar mensyukuri nikmat yang Allah berikan, bukan hanya nikmat harta benda tetapi nikmat Islam,Iman dan ihsan.. Bersyukur bukan hanya mengucapkan Alhamdulilah, tetapi juga banyak berbagi baik harta maupun ilmu pada sesama. Mencari rezeki dengan cara yang halal dan tidak mendzalimi orang lain, membersihkan penghasilan dengan mengeluarkan zakat,memanfaatkan rezeki untuk hal-hal yang diridhoi Allah.. InsyaAllah rezeki,umur dan kehidupan kita akan mendapat barokah dariNya.Amin..

(tolong amin kan doa ini)

Ya Allah Ya Razaq..
Jadikanlah rezeki yang engkau berikan cukup bagi kami,
Jadikan kami bermanfaat bagi lingkungan sekitar kami
Berkahilah pekerjaan,rezeki,keluarga dan umur kami Ya Rahman…
Amin..

"Bagikan agar pengetahuan ini bisa di baca teman-temanmu, semoga langkah kecil ini menjadi ladang amal kita karna menyampaikan ilmu yang bermanfaat, sehingga menjadi pahala di akhirat kelak.. Amin..."

Jumat, 01 Juli 2016

Halal Juga Barokah

Bekerja(lah) yang Halal Juga Barokah

Pada sebuah acara bedah buku yang diselenggarakan oleh penerbit buku islam tempat saya bekerja, seorang pembicara mengatakan kepada peserta bahwa pemilik penerbit buku tersebut hampir menginfaqkan seluruh penghasilan usahanya kepada jihad fisabililah (Jihad sosial). Hanya sebagian kecil ia gunakan untuk keluarganya. Sontak, saya merasa terharu mendengar kata-kata tersebut. Rasa bangga dan dan syukur pun menghinggapi perasaan saya. Sebab, saya bekerja pada sebuah perusahaan yang tidak berorientasi pada kepentingan profit atau pun bersifat kapitalis (untuk kekayaan pribadi), melainkan bekerja pada tujuan amal. Lihat saja, meski beromset ratusan juta bahkan mencapai angka miliyar dalam setahun, sang pemilik hanya menempati rumah yang ukurannya lebih kecil dari rumah kontrakan yang saya tempati saat ini. Ditambah, penerbit buku tempat saya bekerja tidak berorientasi pasar. Kami masih tetap menjaga idealisme produk-produk yang dikeluarkan demi memberikan kemanfaatan dan kebaikan bagi pembacanya.

Masih sulitnya untuk bisa hidup dari usaha yang dibangun sendiri, menuntut saya harus mencari pekerjaan. Berbagai lamaran pekerjaan pun harus dilakukan meski dengan setengah hati. Ya, setengah hati, dikarenakan prinsip saya yang tidak menyukai bekerja pada perusahaan yang kerja keras kita hanya menguntungkan sang pemilik. Di gaji sedikit, tetapi hasil keuntungan atas hasil usaha kita mereka yang makan. Agak sedikit berbeda bila bekerja pada BUMN atau PNS, sebab pekerjaan itu dapat menjadi motivasi sebagai amal untuk negara. Harus diakui, untuk bisa diterima di BUMN maupun PNS sangat susah. Selain karena banyaknya pesaing, kapasitas saya untuk diterima sebagai pegawainya masih kurang, terlihat dari tes-tesnya yang selalu gagal, :D. Alhamdulillah, doa saya dijawab agar bisa mendapatkan pekerjaan yang halal juga barokah dengan ditakdirkan bekerja di penerbit buku islam itu.

Hampir sebagian besar sarjana di negeri ini harus menggadaikan idealismenya (khususnya para aktivis Islam) demi sesuap nasi. Banyak pekerjaan yang secara terpaksa diterimanya tanpa memperhatikan keberkahan pekerjaannya, bisa juga kehalalannya. Beberapa teman saya yang dahulu pernah bersama-sama berjuang dalam dakwah kampus pun akhirnya harus bekerja pada bank konvensional yang mengandung unsur riba (bunga bank). Entah karena memang terpaksa atau memiliki pandangan lain, namun bagi saya bekerja pada institusi yang masih bermain riba (yang diharamkan di dalam Al Qur’an) merupakan pekerjaan yang harus dihindari. Ilmu pengetahuan secara empiris sudah membuktikan kerusakan yang timbul akibat ekonomi riba tersebut. Maka, meski berpandangan sebagai pekerjaan yang halal, kebarokahan pekerjaan tersebut masih dipertanyakan.

Ingat, bukan saja hanya kehalalan pekerjaan, namun bagaimana kebarokahannnya. Atau bisa di istilahkan halal tetapi juga toyyib. Kebarokahan suatu pekerjaan dapat dinilai dari besarnya manfaat yang diberikan oleh perusahaan kepada konsumennya. Jika bekerja pada perusahaan seperti pembuat minuman keras atau rokok barang kali, jelas tidak ada nilai kebarokahan di situ (malah tidak halal). Dikarenakan produk yang dibuatnya hanya membuat kerusakan bagi tubuh si konsumen.

Lalu, bagaimana menilai perusahaan tempat kita bekerja barokah atau tidak? Perlu dilihat, apakah produk yang dihasilkan di perusahaan tempat kita bekerja dapat memberikan manfaat yang baik atau justru menimbulkan kerusakan. Memang penilaiannya ini sangat subyektif. Dan tergantung pada idealisme atau pemahaman agamanya (bukan berati pemahaman agama saya bagus, namun hidup dalam kebaikan yang ingin terus saya cari, dengan belajar dari realitas).

Contohnya saja, ketika bekerja di industri kendaraan bermotor. Memang, produk yang dihasilkan dapat memberikan maanfaat kepada pembeli. Namun disatu sisi, paham kapitalisme yang merasuk pada pebisnis kendaraan bermotor menciptakan persaingan untuk berlomba-lomba menjual produknya sebanyak mungkin. Bahkan mampu menipu konsumen dengan iklan-iklan yang berlebihan. Sehingga berdampak pada kemacetan lalu-lintas. Tidak hanya itu, polusi udara membengkak, alam pun terganggu oleh ulah para pebisnis kendaraan bermotor ini. Maka, bisakah kita menilai bekerja pada industri kendaran bermotor dinilai sebagai pekerjaan yang halal namun tidak barokah? Memang agak sedikit dilema untuk menjawabnya. Dan ini kembali kepada individu masing-masing karena sifatnya yang subyektif dan tergantung pada idealisme yang dimiliki.

Tidak sekedar menilai dari sisi manfaat, namun orientasi dari perusahaan tempat kita bekerja pun bisa menjadi penilaian. Perusahaan yang sangat dan sangat berorientasi kapitalis, atau mengharapkan keuntungan yang sebesar-besarnya untuk sang pemilik, justru sangat berdampat signifikan pada ketidakbarokahan suatu pekerjaan. Sebab, orientasi tersebut sangat berkorelasi dengan timbulnya perilaku buruk terhadap unsur pekerjaan. Mereka yang bekerja pada institusi yang sangat kapitalis bisa dimungkinkan dalam menciptakan produknya tidak memperhatikan maanfaat atau dapat berdampak buruk pada konsumen. Karena yang penting income-nya besar dengan berbagai cara (entah halal atau tidak).

Kalau begitu bukankah yang salah hanya pemimpin atau pemilik perusahaan saja? Tidak. Semuan unsur yang ada di dalam sebuah perusahaan saling bersatu dalam menjalankan roda perusahaan, meski hanya sebagai cleaning service. Maka, jika seorang karyawan bekerja pada perusahaan yang membuat produk yang haram (atau tidak barokah) tetap saja pekerjaan tersebut dapat dinilai haram. Selain kerjanya ikut berkontribusi terhadap perkembangan usaha perusahan, ia juga akan mendapat gaji dari hasil keuntungan produk haram tersebut.

Dari ketidakhalalan atau ketidakbarokahan pekerjaan kita itulah akan berdampak pada perilaku kita. Saya sangat meyakini apabila penghasilan untuk konsumsi sehari-hari dari hasil gaji yang kita makan sangat mempengaruhi perilaku kita. Bahkan perilaku anak-anak kita nanti. Semakin tidak halalnya pendapatan yang dimakan, semakin memberikan efek keburukan perilaku yang memakannya. Meski secara ilmiah belum bisa membuktikan penyataan saya itu, namun secara empiris terlihat bagaimana kerusakan seseorang, sebuah keluarga dan kebobrokan seorang anak dilihat dari perilaku orang tuannya. Perilaku orang tua bisa dimungkinkan dari cara ia mendapat penghasilan untuk menghidupi dirinya dan keluarganya (meski ada juga faktor lain). Semakin kita menjaga kehalalan makanan dan penghasilan, akan berkorelasi positif terhadap usaha kita untuk menjaga perilaku dari sikap-sikap amoral masyarakat.

Perlulah kiranya kita sebagai individu memperhatikan kehalalan makanan kita mulai dari cara berpenghasilan sebagai upaya merubah dari diri kita, keluarga dan anak-anak kita nanti. Sebab, kondisi kerusakan sosial yang terjadi saat ini turut disumbangkan oleh rakyatnya yang masih belum memperhatikan kebarokahan penghasilannya. Sehingga menimbulkan perilaku amoral yang merusak tataran sosial masyarakat.

Perubahan sosial harus dimulai dari diri kita sendiri. Kemudian perbaiki keluarga kita mulai dari perbaikan cara memberi makannya (konsumsinya) agar berperilaku yang baik pula. Dengan begitu, mulai dari kebaikan-kebaikan yang dilakukan keluarga insya Allah dapat mempengaruhi kebaikan-kebaikan masyarakat.

Sebagai akhir, jangan lupa untuk terus berdoa atau memasukan doa hari-hari kita untuk menjaga rezeki dari keharaman dan ketidakbarokahan. Kalau  kita merasa pekerjaan kita saat ini tidak barokah, insya Allah doa-doa tersebut akan terjawab tanpa terduga (pengalaman saya, Insya Allah).

Sabtu, 09 Januari 2016

Umroh 9 Hari

Jika jamaah menghendaki umroh tahun ini, Program Umroh 9 Hari bisa menjadi pilihan alternatif, silahkan memilih paket umroh yang telah kami sediakan. Semoga lancar dan barokah..

Umroh 9 Hari

Harga Ekonomi
HOTEL BINTANG 3 $ 1.900
HOTEL MAKKAH  / ASSOLAT MAKKAH
HOTEL MADINAH – RAUDHAH SUITE / WASSEL REEM
Pesawat : Emirates, Saudi Airline

Harga VIP $ 2.050
HOTEL BINTANG 4 $ 2.100
HOTEL MAKKAH – MIRA AJYAD / ELAF MULTAQO, AL MAQOM
HOTEL MADINAH – SAFRA ALHUDA / ANSAR ALJADEED

Harga VVIP $ 2.400
HOTEL BINTANG 5 $ 2.400
HOTEL MAKKAH – GRAND ZAM-ZAM / SOFWAH, ORCHID
HOTEL MADINAH – DALLAH TAIBAH / MADINAH MUBAROK/ AL HARAM

Harga Ini Sudah Termasuk:
  • Tiket pesawat Sby-Jeddah-Sby
  • Akomodasi selama diSaudi sesuai Paket
  • Transportasi Bus Full AC
  • Pembimbing yang berpengalaman
  • Bimbingan manasik Gratis
  • Makan 3x sehari menu Indonesia
  • Air zam-zam (5 liter)

Berikut Syarat dan ketentuan mengikuti Program Ini 

Persyaratan Pendaftaran Umroh :
  1. Menyerahkan paspor yang masih berlaku minimal 8 bulan. Nama di paspor harus 3 kata,  jika masih belum 3 kata maka harus melakukan tambah nama. Apabila dibantu oleh kami maka dikenakan biaya administrasi Rp 350.000,-
  2. Foto berwarna dengan background putih, wajah diperbesar 80 % ukuran 4 x 6 = 7 lembar
  3. Menyerahkan dokumen asli antara lain :
  4. Apabila suami istri : Surat Nikah Asli
  5. Apabila membawa anak usia dibawah 18 thn : Akte Kelahiran Asli
  6. Apabila wanita di atas 45 tahun : KK asli atau  KTP asli
  7. Apabila wanita 44 tahun ke bawah akan dibuatkan surat mahram dengan biaya Rp. 400.000
  8.  Membayar uang muka Rp 5.000.000 atau $ 500

Pembatalan :
Pembatalan keberangkatan dikenakan cancelation fee dan dihitung dari harga paket yang dipilih :
  1. USD 50 terhitung sejak 30  hari sebelum keberangkatan
  2. 10% terhitung sejak 15 hari sebelum keberangakatan
  3. 25% terhitung sejak 7 hari sebelum keberangkatan

 Jadi bergegaslah dalam menggapai ridho Allah.
 * Informasi Lebih Lanjut bisa menghubungi via telephon atau datang langsung ke Kantor Mediterania Tour & Travel Surabaya

PROGRAM PERJALANAN UMROH 9 HARI
(3 hari Medinah, 4 hari Makkah)

HARI 01 : SBY-JED-MED
Berkumpul di Bandara Juanda Surabaya 2 jam sebelum keberangkatan.  Pukul 09.00 take of menuju Sukarno Hatta Dilanjutkan dengan perjalanan menuju Jeddah. Insya allah tiba di Jedah pukul 03.55 dan langsung menuju madinah by bus AC untuk check in hotel.
              
HARI 02  : MEDINAH
Memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi, Ziarah ke  makam Rasulullah dan para sahabat.

HARI 03  : MEDINAH
Pukul 06.30 mengikuti program city tour kota Medinah, meliputi Jabal Uhud, Masjid Qiblatain, Jabal Magnet (tentative) dan kebun kurma.

HARI 04  : MEDINAH – MAKKAH
Pukul 14.00 check out hotel dan menuju Makkah by Bus AC, sekaligus melaksanakan umroh pertama dengan mengambil miqot di Bir Ali. Setelah tiba di Makkah, check in hotel dan melaksanakan umroh pertama.

HARI 05  : MAKKAH
Acara bebas/memperbanyak ibadah di Masjidil Haram.

HARI 06 : MAKKAH
Pukul 06.30, mengikuti program city tour kota Makkah, meliputi : Arafah, Muzdalifah, Mina, Jamarat dan terakhir mampir di Ji’ronah untuk mengambil miqot dalam pelaksanaan umroh kedua. (jamaah diharapkan membawa kain ihrom/mukena ketika city tour).

HARI 07 : MAKKAH
Acara bebas/memperbanyak ibadah di Masjidil Haram.

HARI 08  : MAKKAH-JEDDAH-JKT
Pukul 14.00, check out hotel dan menuju Jeddah dengan mengikuti program city tour kota Jeddah meliputi laut merah, makam Siti Hawa, Cornesh (pusat perbelanjaan kota Jeddah) dan terakhir ke bandara Internasional Jeddah.

HARI 09  : JAKARTA-SBY
Tiba di Surabaya pukul 18.00 dengan selamat dan dengan predikat umroh maqbullah insya allah. Amin, Amin Ya Robb.

Berita Terkenal

Scroll To Top